Awal tahun 2026 langsung disambut dengan fenomena astronomi yang memukau. Malam ini, tepatnya Sabtu, 3 Januari 2026, langit Indonesia akan dihiasi oleh fenomena Supermoon pertama di tahun ini.
Bagi Anda penggemar astrofotografi atau sekadar penikmat keindahan langit malam, ini adalah momen yang pantang dilewatkan. Bulan purnama malam ini diprediksi akan terlihat lebih besar dan lebih terang dari biasanya.
Apa Itu Supermoon Januari?
Fenomena ini terjadi ketika Bulan berada pada fase purnama penuh (Full Moon) dan secara bersamaan berada di titik terdekatnya dengan Bumi (disebut Perigee) dalam orbit elipsnya.
Kombinasi ini membuat satelit alami Bumi tersebut tampak hingga 14% lebih besar dan 30% lebih terang dibandingkan saat bulan purnama biasa yang berada di titik terjauh (Apogee).
Dalam tradisi penamaan bulan kuno, bulan purnama yang terjadi di bulan Januari sering disebut sebagai “Wolf Moon” atau Bulan Serigala. Nama ini konon diambil karena pada bulan Januari yang dingin, lolongan serigala sering terdengar lebih nyaring di belahan bumi utara.
Kapan Waktu Terbaik Menyaksikannya?
Kabar baiknya, fenomena ini dapat disaksikan dari seluruh wilayah Indonesia, baik di Waktu Indonesia Barat (WIB), Tengah (WITA), maupun Timur (WIT).
- Waktu Mulai: Bulan akan mulai terlihat “raksasa” sesaat setelah Matahari terbenam di ufuk barat, dan Bulan mulai naik dari ufuk timur (sekitar pukul 18.00 – 18.30 waktu setempat).
- Waktu Puncak: Ukuran dan kecerahan maksimal biasanya paling indah dinikmati saat Bulan masih rendah di cakrawala, karena tercipta “Ilusi Bulan” yang membuatnya tampak sangat besar saat bersanding dengan gedung atau pepohonan.
Anda tidak memerlukan teleskop atau alat bantu optik khusus. Supermoon ini aman dan bisa dinikmati langsung dengan mata telanjang.
Tips Memotret Supermoon dengan HP
Bagi Anda yang ingin mengabadikan momen ini untuk konten media sosial, berikut tips sederhana menggunakan kamera smartphone:
- Gunakan Mode Pro/Manual: Turunkan ISO (ke angka 100-200) agar gambar tidak noise (bintik-bintik).
- Atur Shutter Speed: Gunakan kecepatan rana cepat (sekitar 1/1000 atau lebih cepat) agar tekstur kawah bulan terlihat dan tidak menjadi bola cahaya putih yang silau (overexposure).
- Gunakan Tripod: Kestabilan adalah kunci untuk foto malam hari yang tajam.
- Cari Foreground: Foto Bulan akan lebih estetik jika ada objek di depannya, seperti ujung menara masjid, gedung tinggi, atau pepohonan, sebagai pembanding ukuran.
Waspada Potensi Banjir Rob
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) biasanya memberikan imbauan terkait fenomena fase bulan purnama. Adanya gaya gravitasi Bulan yang lebih kuat saat Perigee dapat memicu kenaikan pasang air laut maksimum.
Masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir pantai diimbau untuk waspada terhadap potensi banjir rob (banjir pasang air laut) yang mungkin terjadi bersamaan dengan fenomena ini.
Jangan lupa ajak keluarga atau pasangan untuk keluar rumah sejenak malam ini dan nikmati keindahan “lampu sorot” alami yang menerangi langit Indonesia!
